Merasa Di rugikan, Pasien Salah Satu RS di Tambun Minta Keadilan

  • Whatsapp
banner 468x60

KELUARGA PASIEN KECEWA ATAS PELAYANAN RS

kabupaten Bekasi -Suaracikarang. com

Di masa pandemi corona yang belum tahu kapan berakhirnya, masyarakat terus di hantui rasa ketakutan apalagi saat ini meningkat jumlah warga yang terindikasi terpapar virus covid-19 semakin bayak. banyak cara upaya pencegahan dan antisipasi yang di lakukan pemerintah pusat, daerah dan desa dengan mensosialisasikan penggunaan masker, sering bercuci tangan, jaga jarak ( Social Distancing) serta Penyemprotan penyemprotan Desinfektan di lingkungan masing masing.
Status pandemi wabah corona yang di tetapkan oleh Badan kesehatan dunia WHO menjadi perhatian exstra seluruh negara di dunia untuk melawan corona.
Kabupaten Bekasi salah satu wilayah kabupaten di Jawabarat yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, yang di mana kasus terkonfirmasi Virus covid -19 di Jakarta tertinggi di Indonesia, dan rentan masuk ke Kabupaten Bekasi.
Miris di tengah pandemi masih saja ada kejadian yang merugikan warga masyarakat oleh salah satu RS di bilangan Tambun Bekasi.

Kronologi bemula dari salah satu warga Tambun yang di rawat di RS tersebut masuk IGD pada tangal 14 /09/2020, sekitar jam 01.00 Wib, di pindahkan ke ruang rawat Pada hari Kamis 17/09/2020.
Menurut keterangan dari salah satu anak Pasien mengatakan kepada awak media ” bahwa di duga ada kejanggalan dalam pelayanan RS KM tersebut, pasalnya setelah pasien di pindahkan ke lantai dua ruang isolasi, dan anenhnya di ruangan isolasi tersebut saya dan keluarga tidak boleh menunggu dan menemani Bapak saya ( pasien-red)
Kami juga memohon kan kepada pihak RS untuk di lakukan SWAB. Dan dilakukan di lantai 3. Sekitar jam 22: 00 dan kelurga tidak boleh melihat sehingga ibu dan adik bapak menuggu di luar kamar . Ucapnya

“Adik ibu saya menuggu di musholah ibu saya balik pulang, dan sekitar jam dua ada telpon dari RS, saya lihat panggilan masuk tetapi saya tidak angkat , karna ketiduran . Jam 3: 00 . Adik ibu saya mendatagi keluarga ke rumah, bahwasanya bapak saya sudah meninggal dunia, Adik bapak di beritahu oleh satpam RS kalau pasien sudah meninggal. Ucapnya.

” Dari RS memberitahu kelurga bahwasanya pemakaman bapak saya harus di lakukan protokol kesehatan, Kami punya keinginan untuk di makamkan secara biasa , tetapi dari RS bisa katanya proses pemakaman biasa , asal ada peryataan kelurga dan di setujui gugus tugas kesehatan yakni Polsek ,polres , dan puskesmas , kami binggung waktu makin siang tidak mugkin kami ke gugus tugas yang sudah ditentukan degan berat dan terpaksa kami ikuti pemakaman protokol corvid.
Dan akhirnya jenazah di makam kan jam 11 : 00 di pemakaman TPU manggun jaya.

” Dalam proses pemakaman kami di arahkan oleh tim medis yang mengubur agar menjauh , kami telah meminta agar bisa lihat bapak kami di hari terakhirnya dan di sholatkan , tetapi jawab tim medis yang mengubur ia sebentar ” akan tetapi mereka langsung mengeluarkan jenazah bapak saya yang tidak memakai peti hanya kantong plastik jenazah dan di lemparkan ke lubang tanpa di turunkan sesuai ajaran Islam. Ucapnya.

” Miris dan sedih saya melihatnya, dan ibu saya jatuh pingsan melihat hal itu. Kami sangat tertekan batin ” apalagi acara pemakaman tidak ada yang datang kelurga bahkan tetangga , adik bapak saya dari Jakarta sudah datang pas tau. Bapak saya dimakamkan secara corvid , langsung balik pulang . Bahkan RT kami pun tidak hadir saat pemakaman padahal mereka sudah di RS, pas tau itu ” semua putar balik pulang .

” Sabtu 19/09/2020 mendapatkan hasil swab dari RS, Dan kami buka hasilnya pada jam 15: 00 ternyata hasil swab bapak saya Negatif.

Nah ini saya rasa benar benar kami sanggat sedih, kenapa harus ambil tindakan pemakaman corvid terhadap bapak saya”??? ucapnya.

” Saya dan keluaga berharap istansi manapun bisa berikan keadilan kepada saya ” terkiat kekurang puasan keluarga saya atas pelayanan tim medis RS tersebut.
Dalam pantuan awak media Senin 21/09/2920 pihak keluarga Pasien kembali menyambangi ke RS dan di lakukan pertemuan secara tertutup dengan pihak RS, dan saat itu langsung di terima Direkrur dan Humas RS.
Awak media mengkonfirmasi terkait pertemuan tersebut, Salah satu pihak keluarga pasien ( SA) mengatakan ” Kami ke sini meminta kronologi awal sampai proses pemakaman dan rekam medis pasien tapi kami menunggu sampai Kamis depan.
Awak media pun coba mengkonfirmasi pihak RS ( W) selaku Humas RS, tapi tidak ada tanggapan “bang klo stetment tidak bisa keluar dari mulut saya, Karena bukan bagian saya dan sudahvdi jelaskan oleh Direktur kami, maslahnya itu kompetensi Direktur Ucap W selaku Humas RS.
” Dari keterangan dr alamsyah saat di mintai keterangan terkait pemakaman secara corvid 19 .menerangkan lewat wahsap bahwasanya

protokol kesehatan ,kasus suspek yg wafat pemulasarannya dgn protokol covid
Walau hasil swab negatif ia tetap dilakukan pemakaman protokol corvid.
Dari hasil rapit itu reaktif dan swab negatif
itu dasarnya jdi suspek

Tanya media lensa hukum kepada dr Alamsyah” Yang akurat rapit apa hasil swab pak ‘ jawab dr alamsyah ia swab.

jika akurat swab .. kanpa pasyen hars di makamkan secara corvid.. dampak semuh itu kelurga. Sangat dirugikan,

Jawab dr Alamsyah dinkes: suspek oleh dokter PJ ,sehingga protokol covid diperlakukan.

Tanya media Dan dari pemakaman protokol kesehatan. Apakah jenajah tidak pakai peti.

Jawab dr Alamsyah dinkes: standard pakai peti.

Tanya media : Oh ia pak untuk pemakaman. Ienazah proses untuk di pemakamanya berapa jam pak Sesui protokol kesehatan.

Jawab dr.Alamsyah dinkes: 4 jam

Tanya media Oh ia pak apakah rumah sakit yang punya ruagan isolasi apa harus ada izin dari dinas… Menagadakan sweb harus ada izin dari dinas juga.

Jawab ” Dr Alamsyah dinkes: Iya.

Dari dugaan media RS tersebut tidak sama degan aturan protokol kesehatan dan keteragan dr Alamsyah sebagai gugus tugas kesehatan.

Dalam pantuan awak media Senin 21/09/2920 pihak keluarga Pasien kembali menyambangi ke RS dan di lakukan pertemuan secara tertutup dengan pihak RS dan saat itu langsung di terima Direktur dan Humas RS.
Awak media mengkonfirmasi terkait pertemuan tersebut, Salah satu pihak keluarga pasien ( SA) mengatakan ” Kami ke sini meminta kronologi awal sampai proses pemakaman dan rekam medis pasien tapi kami menunggu sampai Kamis depan.

” Dari keterangan dr. alamsyah saat di mintai keterangan  oleh  awak media, terkait pemakaman secara corvid memberikan keterangan lewat pesan wahsap bahwasanya,

“protokol kesehatan , kasus suspek yang wafat pemusarannya dengan protokol covid.
Walau hasil swab negatif ia tetap dilakukan pemakaman protokol corvid.
Dari hasil rapit itu reaktif dan swab negatif
itu dasarnya jadi  suspek.

Tanya media lensa hukum kepada dr. Alamsyah” Yang akurat rapit apa hasil swab pak? ‘ jawab dr. Alamsyah ia swab .

jika akurat swab .. kanpa pasien harus di makamkan secara corvid..? dampak semua itu keluarga sangat dirugikan?

Jawab dr. Alamsyah dinkes: suspek oleh dokter PJ ,sehingga protokol covid diperlakukan.

Tanya media, dan dari pemakaman protokol kesehatan. Apakah jenajah tidak pakai peti?

Jawab dr Alamsyah dinkes: standard pakai peti

Tanya media : Oh ia pak untuk pemakaman. jenazah proses untuk di pemakamanya berapa jam pak sesuai protokol kesehatan.

Jawab dr.Alamsyah dinkes: 4 jam

Tanya media Oh ia pak apakah rumah sakit yang punya ruangan isolasi apa harus ada izin dari dinas…? Mengadakan sweb harus ada izin dari dinas juga.

Jawab ” Dr Alamsyah dinkes: Iya.

Dari dugaan media, bahwa  praktek yang di terapkan oleh RS tersebut tidak sama dengan aturan protokol kesehatan, dan keterangan dari  dr.Alamsyah sebagai gugus tugas penanganan percepatan covid-19 Kabupaten Bekasi.

Dalam pantuan awak media,  Senin 21/09/2020 pihak keluarga Pasien kembali menyambangi ke RS dan di lakukan pertemuan secara tertutup dengan pihak RS dan saat itu langsung di teruma Direkrur dan Humas RS.
Awak media mengkonfirmasi terkait pertemuan tersebut, Salah satu pihak keluarga pasien ( SA) mengatakan ” Kami ke sini meminta kronologi awal sampai proses pemakaman dan rekam medis pasien tapi kami menunggu sampai Kamis depan.

Dari dugaan media sangat jelas ” RS tersebut tidak sama degan aturan protokol kesehatan dan mengacu kapada keterangan dr. Alamsyah sebagai gugus tugas kesehatan.

Dalam pantuan awak media Senin 21/09/2920 pihak keluarga Pasien kembali menyambangi ke RS dan di lakukan pertemuan secara tertutup dengan pihak RS dan saat itu langsung di terima oleh Direktur RS dan Humas RS.
Awak media mengkonfirmasi terkait pertemuan tersebut, Salah satu pihak keluarga pasien ( SA) mengatakan ” Kami ke sini meminta kronologi awal sampai proses pemakaman dan rekam medis pasien tapi kami menunggu sampai Kamis depan.
Awak media pun coba mengkonfirmasi pihak RS ( W) selaku Humas RS, tapi tidak ada tanggapan, “bang klo stetment tidak bisa keluar dari mulut saya, Karena bukan bagian saya dan sudah di jelaskan oleh Direktur kami ke pihak keluarga, masalahnya itu kompetensi Direktur, Ucap W selaku Humas RS lewat pesan Wassapnya ke Awakmedia.
( SS/ red)

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *